Kematian Seorang Pengarang


Ketidakpuasan pada kepuasan itulah yang selama ini memacu saya untuk mendapatkan yang lebih baik.

Pembaca yang budiman, kisah ini adalah karangan terbaru saya. Ya, sudah cukup lama saya tidak hadir mengisi kolom sastra di koran yang anda baca pagi ini. Saya harap, pembaca yang budiman bisa memberikan apresiasi atas karya saya kali ini.

Sebenarnya, kisah kali ini adalah kisah yang paling sulit untuk ditulis. Naskah yang akhirnya jatuh ke tangan anda ada berawal dari berbagai naskah yang terpaksa dibongkar berkali-kali. Ada sesuatu yang selalu membuat saya tidak puas. Barangkali, lebih tepat bila dikatakan bila sebenarnya saya tidak menginginkan kepuasan. Saya tidak puas dengan kepuasan.

Anda mungkin akan menangkap kesan serakah melalui ungkapan saya di atas. Ketidakpuasan pada kepuasan itulah yang selama ini memacu saya untuk mendapatkan yang lebih baik. Namun memang, semuanya membuat saya lemas dan tidak jarang jenuh. Sempat berpikir untuk berhenti namun tak juga kuasa untuk menghentikannya. Hasrat untuk maju dan keinginan untuk berhenti dan mundur hadir berkali-kali. Hal inilah yang justru memompa saya masuk lebih dalam pada kebimbangan yang ternyata kelam.

Suatu ketika, Jemari ini bergerak tanpa kendali, kepala ini penuh dengan cerita-cerita baru. Semuanya selalu menuntut untuk segera ditumpahkan. Namun tiba-tiba, muncul keinginan untuk berhenti. Semua yang sudah terpampang pun pudar.

Menulis itu seperti bercinta. Tidak akan berhenti bila hanya sampai foreplay. Harus terus dan menerus sampai akhir. Bila saat itu tiba, kepuasannya melebihi kecupan yang paling mesra, atau suatu intercourse yang paling ajaib. Semakin jauh saya menulis, rasanya semakin tinggi hasrat untuk menunda puncak kepuasan. Sama halnya ketika kita bercinta, semakin liar permainan kita, semakin tinggi harapan agar orgasme tidak segera datang, meski peluh sudah membentuk lautan. Itulah yang menyebabkan saya semakin sulit untuk berhenti menulis, mengarang, dan menyebarluaskan berbagai kisah karangan saya.

Lagi pula, hampir setiap hari ketika mendapat SMS atau telepon dari kawan-kawan, selalu muncul pertanyaan yang menanyakan cerpen-cerpen atau novel saya yang baru. Hampir setiap hari pula, media massa dan televisi menghadirkan berbagai gagasan. Menghadirkan pengetahuan, gagasan-gagasan, bahkan kosa-kata baru untuk dituangkan dalam narasi yang saya tulis.

Selain itu, menulis adalah pekerjaan yang menghadirkan saya di dunia yang kejam pada mereka yang sungkan. Terus terang, saat ini rekening bank yang saya miliki tidak lagi sekadar diisi dengan ratusan ribu uang “hiburan” dari koran-koran, melainkan jutaan rupiah dari royalti yang didapat berbagai penerbit dan produser-produser yang tertarik untuk memfilmkan karya saya. Surat-surat yang berisi tawaran-tawaran baru pun membanjiri inbox dalam email saya. Saya tidak mengelak, memang dengan cara ini saya hidup.

Irwan, pria tampan yang kaya-raya, sebuah rumah lumayan mewah, kendaraan pribadi, dan lingkungan pergaulan elit melengkapi kemapanan saya. Saya rasa, saat ini sayalah perempuan yang diimpikan oleh semua perempuan yang ada di negeri ini. Saya merasa seperti bidadari yang menari-nari dalam surga karangan sendiri. Ya, inilah surga yang paling sempurna. Surga yang bisa digenggam tanpa harus melalui kematian.

Belakangan, saya semakin menggilai pekerjaan ini. Seperti saya sudah kecanduan dengan semua decak kagum para kritikus. Sehari saja tidak membaca kritikan atas karya saya, perasaan sudah pasti gundah. Tidak jarang saya dihinggapi ketakutan-ketakutan. Mungkinkah mereka meninggalkan saya? Inilah tantangan yang senantiasa memeras kecerdasan dan menguras tenaga saya.

Siang, malam, pagi, sore, hampir setiap waktu dihabiskan depan laptop atau PC. Saya mulai mengabaikan panggilan telepon atau pesan SMS. Termasuk dari pacar saya dan orang-orang terdekat. Misalnya kemarin lalu, dengan sengaja saya mendamprat Irwan. Saya katakan padanya, “aku tengah bercinta dengan tokoh karanganku. Jangan kau sela aku. Carilah kesibukan lain! Atau cari perempuan lain! Aku tak peduli!” Dia marah lantas menutup telepon. Dan saya puas.

Sekali lagi, semuanya bermula dan berkembang karena ketidakpuasan. Entah mengapa saya tidak puas dengan banyak hal. Saya tidak puas dengan semua yang saya dapat, dengan semua yang saya lihat, dengan semua yang saya rasa, dengan semua yang saya pikir. Entah mengapa, dunia yang katanya luas, ternyata tidak lagi menghadirkan narasi yang memuaskan untuk dituangkan dalam karangan.

Sekarang saya semakin tidak bisa keluar dari kisah ini meski sebenarnya saya sangat ingin segera mengakhiri cerita ini. Hanya saja, saya masih berharap bisa menemukan ending yang sempurna. Ending yang berbeda dari karya-karyaku yang lain. Tapi apa? Semua jenis penutup kisah sudah pernah saya tulis. Pastinya, pembaca mengharapkan yang baru. Tapi, sekali lagi, adakah yang baru, ketika semua materi dalam dunia ini hanyalah hasil reproduksi dari sesuatu yang usang di masa lalu? Inilah yang membuat saya sulit untuk berhenti.

***

“Hei bangun! Bangun! Buka matamu, sikat gigimu, basuh mukamu, teruskan ceritamu. Kamu harus tahu, aku sudah sangat tidak sabar membaca kisahmu yang baru. Kalau boleh tahu, sekarang giliran siapa yang hendak kamu telanjangi?” suara berat seperti keluar dari mulut laki-laki tua itu menyambar ke telingaku. Seperti petir, menggelegar dan mengguncang jantungku.

“Hah!” aku terkejut. “Mimpi rupanya…”

Saya membuka mata dan masih setengah sadar. Rupanya semalam saya tertidur depan komputer. Masih dalam keadaan duduk di atas kursi depan komputer dan wajah rapat menggencet keyboard. Layar monitor masih menyala. Tertera sederet cerita yang belum selesai. “Sialan, cerita ini belum juga tuntas,” gumam saya dalam hati. Ups, ternyata deretan huruf dalam paragraf terakhir cerita ini meracau tidak jelas. Huruf-huruf itu berbaris rapi namun tidak bersuara. Sempat saya hapus deretan huruf itu sebelum mematikan komputer. Namun…

“Stop, untuk apa kau matikan komputer itu, bukankah kisahmu kali ini belum tuntas?” suara itu kembali terdengar.

Kali ini jelas bukan mimpi. Saya sudah terbangun. Tidak mungkin bermimpi. Tapi suara siapa? Saya mencari-cari sumber suara. Bolak-balik mata saya arahkan ke semua arah, ke sana kemari, ke kanan dan kekiri. Tapi tidak ada siapa pun di kamar ini. Hanya saya, ranjang, kursi dan meja komputer, tumpukkan buku, surat-surat yang berceceran di atas lantai, dan lampu sorot yang silaunya semakin menyengat. Suara siapakah gerangan? Sekali lagi pertanyaan itu muncul dari kepalaku.

“Kenapa melamun? Nyalakan kembali komputer itu dan mulai bekerja. Tulis kisah itu sampai selesai. Sekali lagi aku katakan padamu, aku sudah tidak sabar menunggu kisahmu yang baru!” Suara itu kembali menusuk lamunanku. Saya semakin liar, melihat ke segala penjuru.

“Dungu! Kau cari apa?” tanyanya sedikit keras.

“Kau! Aku cari engkau,” sambil mencari-cari saya balas pertanyaannya.

“Untuk apa? Sudahlah, jangan cari aku. Teruskan saja ceritamu. Aku dan semua penggemarmu sudah tidak sabar ingin bertindak. Ceritamu adalah inspirasiku….

“Tunggu dulu, siapa kau?” saya berusaha menyela omongannya.

“Aku bukan siapa-siapa. Aku yakin kau tidak akan percaya bila aku menyebutkan siapa aku…,” jawabnya sambil terkesan berusaha meyakinkanku.

“Coba saja, ceritakan siapa kau?” saya tantang dia.

“Aku bukan siapa-siapa, kau tidak mengenalku, tapi aku tahu betul siapa kau. Akulah yang selama ini menyemangatimu untuk berkarya,” suara itu berusaha menjelaskan identitasnya kepadaku.

Bullshit! Aku tak percaya. Come on, show yourself! Jangan jadi pengecut. Aku menantangmu untuk menampakkan batang hidungmu di depanku…,” saya masih penasaran. “Atau aku lapor polisi!”

“Hahaha….lapor polisi? Silakan, laporlah sesukamu. Aku sudah bilang bahwa aku bukan siapa-siapa. Lagipula polisi mana diduniamu yang akan percaya dan mau menangkapku. Mungkin, jangankan menanyai apa kesalahanku, menanyakan keberadaanku pun mereka pasti bingung,” suara laki-laki itu semakin dekat.

“A…a…! kau salah. Kau masuk kamarku tanpa ijinku, mengigau tanpa muka, dan menggangguku. Itu semua adalah tindakan kriminal. Siapapun di negeri ini paham kalau itu adalah tindakan yang melawan hukum. Aku bisa mengusirmu…!” Saya masih berusaha mencoba menggertak.

“Kawan, kau yang salah! Aku tidak datang tanpa ijin, aku datang dengan undanganmu. Aku selalu memenuhi permintaanmu untuk membantumu mengakhiri semua kisah-kisahmu. Terus terang, akulah pundi emasmu…” jawabnya dalam.

“Cuih! Mengundangmu? Kapan? Kau jangan berkhayal! Aku tidak pernah mengundangmu!” Saya membalas dengan gertakan yang lebih hebatnya.

“Baiklah, sekarang kau dengar aku. Aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Dasar kau, pengarang tak tahu diuntung. Susah payah aku datang ke tempatmu, dan hanya ini balasanmu untukku. Aku akan datang kelak, tidak untuk membantumu, tapi untuk menuntutmu….” Suara itu pun hilang.

“Aneh…,” sambil geleng-geleng kepala sebatang rokok putih saya nyalakan. Menghisapnya dalam-dalam sambil tak henti berpikir. Satu lirikan saya arahkan ke sebuah cangkir kopi yang sudah dingin. Televisi 21 inch saya nyalakan, berupaya mencari pengalihan. “Nah! Inah! Bikinkan aku kopi,” saya menyeru pada pembantu saya; Inah. Karena tak sabar, satu tegukan dari secangkir kopi dingin bekas ternyata semakin mengeringkan kerongkongan. Saya masih duduk termenung di atas kursi yang semalam dijadikan tempat tidur.

“Sudahlah,” saya menggumam dalam hati. Lantas berdiri, meski badan masih lemas dan kaku. Kejadian barusan membuat migrain saya kambuh. Ah, perut ini juga sakit, nyeri dan melilit. Sepertinya kambuh lagi maag. Belakangan, saya memang lebih mengakrabi kopi pahit dan rokok dibanding nasi atau roti.

Sambil memijit-mijit kepala, saya bangkit dari duduk, meraih handuk, melangkah ke kamar mandi. Tombol air panas saya putar, baju dibuka, dan shower dinyalakan. Tak lama saya sudah basah diguyur air hangat. Helai demi helai rambut saya lerai dengan jari-jari kedua tangan. Saya hendak pastikan, setiap tetes-tetes air hangat itu menembus kulit sampai kepala. Tiba-tiba, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Kran shower saya tutup perlahan dan berusaha konsentrasi mendengar suara itu.

“Selamat pagi pengarangku yang cantik. Kali ini aku datang kembali, tidak dalam kisah-kisahmu, tapi dalam kenyataanmu…,” terdengar suara berat dan parau layaknya suara seorang laki-laki perokok berat. “Kamu masih ingat aku, khan?”

“Hhhh! Siapa kau!? Berani-beraninya datang ke sini!” setengah mati saya terkejut. Tidak diduga, seorang laki-laki entah dari mana asalnya, hadir di hadapan saya. Saya berusaha meraih handuk, tapi handuk sialan itu jatuh ke lantai yang basah.

“Kenapa, kau canggung didepanku? Biasanya kau berani. Kenapa sayang?” kembali dia bersuara.

“Siapa kau!?” saya menyalak marah.

“Kau lupa? Kita pernah berkenalan. Kala itu, aku memainkan piano di sebuah pesta. Kau datang menghampiri dan memujiku. Kau bahkan berulangkali menyanjungku. Kau tahu, aku tidak hanya piawai memainkan piano, tapi juga piawai mencumbuimu. Bukan hanya tubuhmu, tapi seluruh keinginanmu, petualangan-petualanganmu. Kau bilang, aku adalah laki-laki yang selalu kau impikan. Satu-satunya pria yang sanggup memahami setiap detilmu yang katamu tidak bisa dipahami dengan mudah oleh pria biasa. Kau mestinya tidak lupa atas aku…,” suara itu datar dan pelan. Membuat saya merinding.

“Tidak! Kau hanya mengarang-ngarang cerita. Kita tidak pernah berkenalan apalagi bergelut dalam satu ranjang! Jangan pernah menghinaku, aku adalah perempuan yang bermartabat. Bukan perempuan jalang yang berkeliaran dalam mimpi dan khayal-khayalmu!” Saya berusaha melawan desakannya. Saya melihatnya samar, menelan asap dari rokok yang dihisapnya. Memuntahkan kembali lewat mulut dan lubang hidungnya.

“Terserah, kau memang pengarang ulung. Selalu punya cara untuk mengarang. Mengadakan dan meniadakan adalah hal yang mudah bagimu. Meski sebenarnya, seperti yang kau akui sendiri dalam karanganmu, semua itu tidaklah mudah. Kau sudah mengadakanku, tapi tidak pernah meniadakanku. Kau campakkan aku, meski kau tahu tidak pernah bisa lari dariku. Kau menentukan aku, dan aku menjadi sumber ketidakmenentuanmu. Lama aku menunggu waktu untuk pulang, tapi kau tak kunjung datang. Kali ini aku datang. Hendak kusampaikan pemberontakan kepadamu.” Suara itu kembali menyerang.

Migrain saya semakin kambuh. Keran air untuk shower belum sepenuhnya saya tutup. Tetes demi tetes air masih mengalir melahirkan irama yang mencekamkan pagi. Saya tertunduk dan merasa sangat terhina. Menampilkan diri telanjang tanpa busana, tanpa kebanggaan. Di tengah itu, saya masih berusaha mengingat siapakah gerangan orang ini? Benarkah dia pernah muncul dalam kehidupan saya? Setahu dan seingat saya, tidak pernah ada laki-laki itu.

Atau benar yang dia katakan, dia hanyalah seseorang yang pernah hadir dalam salah satu atau beberapa buah karangan. Tapi, karangan yang mana? Dalam cerita apa? Apa yang telah saya lakukan kepadanya? Mengapa dia hendak memberontak? Ah! Tidak mungkin, tidak mungkin ada tokoh fiksi yang bisa menjelma di kehidupan nyata. Jangan-jangan dia benar-benar ada, pura-pura menjadi salah seorang tokoh dalam karangan saya, dan mencoba mengambil keuntungan dari saya. Saya harus bersiap.

“Tubuhmu memang indah. Wajahmu cantik. Dadamu…hmm. Air yang membasahimu membuatmu semakin menarik. Terus-terang, aku memandangimu dengan berdebar. Aku yakin kau masih ingat, percintaan yang hebat di bawah siraman air hangat. Aku sangat ingin mengulangnya sekarang…,” serangannya semakin menjadi.

“Cukup! Cukup kataku! Hentikan omong kosongmu jorok itu! Enyah dari hadapanku sekarang juga!” saya berteriak sekuat tenaga sambil gemetar. Tapi orang itu semakin nyata, raut wajah buruk rupa serta sosok tubuhnya semakin jelas berdiri di depan saya. Tidak satupun helai kain menutupi badannya. Dia menjamah tubuh saya, menciumi saya, dan…. Saya tidak lagi sanggup berteriak. Dia semakin kuat mencengkeram seluruh tubuh saya dan membuat saya lemas, lunglai tanpa daya. Saya masih setengah sadar, ketika dia bangkit, meludahi tubuh saya, dan mencampakkan saya dalam kekotoran. Saya sakit, perih sekali. Lantas, semua menjadi gelap.

Brak! Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan paksa. Irwan masuk setengah berlari. Saya melihat muka manisnya pucat melihat saya terkulai lemas di lantai kamar mandi. “Sayang ada apa? Kamu sakit?” tanyanya. Saya tak bisa menjawab kecuali mengigau kedinginan. Sambil menyelimuti saya dengan handuk kering, dia memapah saya ke kamar. Merebahkan saya di atas kasur dan meminta Inah memasangkan baju hangat untuk saya.

“Sayang, ada apa? Kenapa kau pingsan di kamar mandi? Aku khawatir,” tanyanya lembut. “Kamu sakit ya? Istirahatlah, jangan terlalu memaksa dan jangan begadang lagi. Nanti tubuhmu rusak.”

Saya tidak bisa menjawab. Hanya butir-butir air mata mengalir pelan dari kedua mata. Mungkin Irwan mengerti apa yang hendak saya ceritakan. Di tengah kebingungan itu, saya memilih untuk mengalihkan perhatiannya. “Kamu kok di sini? Bukankah kau harus ke kantor hari ini. Katamu ada meeting penting yang harus kau ikuti.”

Dia menjawab, “Iya, mestinya aku sudah ke kantor sekarang. Jam 11 nanti ada rapat sama direksi. Tapi di jalan aku ditelepon Inah. Dia bilang, kamu teriak-teriak tidak jelas di kamar. Dia tidak berani masuk karena pintu kamarmu terkunci rapat. Jendelamu juga. Dia tidak bisa masuk dan tidak berani mendobrak pintu tanpa seijinmu atau aku. Makanya aku buru-buru kemari. Ingin memastikan keadaanmu.”

“Ehmm…makasih ya, aku jadi ngerepotin kamu. Sudah gih kamu pergi, nanti telat. Nggak enak bikin orang lain menunggu, apalagi oran-orang itu adalah boss-mu sendiri. Aku baik-baik saja, mungkin Cuma butuh istirahat,” jawab saya sambil mencoba menenangkannya di tengah kekalutan-kekalutan dalam kepala saya sendiri.

“Sungguh?” tanyanya sedikit ragu.

“Sungguh, gih pergi sekarang. Tolong bilang sama Inah, bawakan aku air putih hangat sama obat penenang di kotak obat. Sama dua helai roti isi, kayaknya aku butuh sarapan,” sekali lagi upaya saya untuk meyakinkannya.

“Ya sudah, tunggu ya. Biar aku yang bawain,” ujarnya.

Sesaat, dia sudah kembali masuk ke kamar saya membawakan segelas air hangat, dua lembar roti isi, dan dua butir pil penenang yang biasa saya gunakan. “Ini, makan dulu, sudah itu, baru minum obat. Kamu akan lebih baik nanti,” sarannya.

Saya hanya tersenyum.

“Kamu benar-benar tidak apa-apa?” sekali lagi dia memastikan keadaan saya.

“Iya sayang, aku tidak apa-apa…, tenang saja. Kamu kan bilang, aku akan baikan nanti,” saya masih berusaha meyakinkannya. “Pergi sana, bossmu pasti sudah marah-marah sekarang.”

Dia menatap ke arah saya, kemudian menoleh ke arah jam di lengan kirinya. “Ya sudah, aku berangkat, tapi pasti langsung ke sini sesudah meeting. Aku harap kamu baik-baik saja.”

“Iyaaaa, bawel!” Saya sambil tersenyum.

Kunci mobil dengan gandul ornamem dari kulit berwarna hitam disambarnya. Beberapa saat, terdengar bunyi alarm dimatikan kemudian deru mobil menjauh dari rumah. Saat itu, mata saya sudah mulai kelihatan lelah. Kepala semakin berat. Kantuk pun menerpa. Sepoi dingin angin pagi mengeratkan tubuh dengan selimut. Saya berharap bisa segera pulih. Tidak lama, saya tertidur.

Dalam keadaan yang setengah sadar, saya merasakan sentuhan kasar beberapa tangan menggerayangi tubuh saya. Saya tersadar dan segera berontak. Tapi mata ini seperti ditutup kain hitam, kedua tangan dan kaki terikat kuat. Saya berusaha teriak, tapi mulut tersumpal. Saya mendengar dengus kasar persis di telinga. Saya tersengal. Seluruh tubuh serasa mati.

Saya tidak boleh kalah. Siapa orang-orang biadab ini? Siapa mereka yang berani menghina saya? Saya tersentak ketika mendengar suara desis salah seorang di antara mereka, tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Kemudian gerakan kasar merasuki tubuh saya, meremas-remas dada, dan tindihan berat menempa saya. Saya hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat seperti apa? Harus melawan bagaimana? Saya lemas dan merasa sangat tidak berdaya. Inikah rasanya menjadi perempuan yang dihinakan?

Tiba-tiba, saya merasa tubuh diguncang-guncangkan keras. Hah! Rupanya Inah, duduk persis di pinggir ranjang dan berusaha keras membangunkan saya dari tidur. Mencerabut saya dari mimpi buruk ini dengan segala upaya dan tenaga yang dipunyainya. “Non bangun Non! Bangun!” ujarnya. Saya melihat mukanya pucat.

“Puji Tuhan, ternyata semua ini hanya mimpi. Mimpi yang paling buruk. Mimpi yang begitu jelas dan seolah menjadi nyata,” seru dalam hati. Saya memeluk Inah sambil menangis.

***

Sejak saat itu, mimpi-mimpi buruk selalu datang manakala saya tertidur. Semakin sering mimpi itu datang, semakin membuat saya takut. Segala upaya saya lakukan untuk tetap menjaga agar tidak tertidur. Namun semua itu tidak memberi arti. Bayangan-bayangan itu semakin sering mendatangi saya. Tidak hanya saat tertidur. Dalam keterjagaan, mereka berusaha mengajak saya masuk, berdialog, dan berdebat dalam dunia mereka. Saya semakin takut.

Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sudah dilalui, namun tidak kunjung berubah. Kondisi saya semakin ringkih, mata mencekung, tubuh mengurus, dan mulut sering meracau tidak jelas. Inah meminta berhenti karena tidak kuat melihat keadaan saya. Irwan, tampak semakin khawatir dan frustasi saat dia memutuskan untuk pergi dan menghentikan hubungannya dengan saya. Saya tidak peduli, meskipun dengan begitu saya tahu, saya semakin sendirian.

Setiap hari saya habiskan waktu di depan komputer. Berusaha keras mengarang cerita-cerita, namun tidak satupun yang sanggup saya tuntaskan. Suatu ketika, komputer di kamar saya hilang, sementara laptop kesayangan sudah rusak karena terbanting tempo hari. Saya frustasi mencari-cari dan mengutuk. Siapakah gerangan pencurinya? Teganya dia mengambil satu-satunya kekayaan saya yang tersisa.

Saya merasa tidak boleh berhenti. Perhatian saya alihkan pada bolpoin atau pensil dan kertas. Tapi semua yang saya temukan, harus habis dan pudar secara perlahan. Saya mulai semakin panik ketika tak ada satupun sarana penumpahan. Saya tidak bisa diam dan membiarkan amarah menghabiskan tenaga saya yang tinggal sisa-sisa.

Suatu ketika, kisah-kisah baru menari-nari dalam benak saya. Menjadikan jemari ini bergetar tanpa kendali. Semakin lama makin menumpuk. Saya tersiksa dan tak kuasa untuk berkisah. Nadi lengan kiri saya cabik dengan pisau roti. Darah yang mengalir, saya jadikan tinta. Saya menulis sebuah kisah pendek. Kisah tentang kematian seorang pengarang, yang tanpa daya dan mengenaskan dibunuh oleh tokoh-tokoh karangannya sendiri. Saya hendak berkisah tentang pengingkaran, tentang penyangkalan, tentang ketidakmungkinan, yang berbalik dan menjelma menjadi kenyataan.

Dengan tenaga yang tersisa, kisah itu saya baca dan sempat disunting beberapa kali. Selesai merampungkan semuanya, saya tersenyum puas meski badan semakin lemas. Kali ini saya dapati ending yang baru, ending yang mungkin tidak pernah terpikir oleh pengarang besar mana pun. Saya membayangkan, karya ini pasti akan memicu polemik baru di dunia sastra. Polemik yang pasti akan menyemaikan kritik atas karya saya, mengembalikan popularitas saya, dan mengangkat saya kembali ke deretan elit sastrawan negeri ini.

Pembaca yang budiman, karangan itulah yang sekarang hadir di hadapan anda sekalian. Saya menunggu apresiasi dan kritik anda sekalian. Selamat membaca dan sampai jumpa.

Bandung, Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s