Pameran: Narasi di Dalam Karya Seni


Senin, 01 Oktober 2007 – Ninuk Mardiana Pambudy

Setelah pameran Intimate Distance di Galeri Nasional Jakarta awal Agustus lalu menyuguhkan karya 35 perempuan perupa Indonesia, saat ini di Bentara Budaya Jakarta berlangsung pameran tunggal karya perupa perempuan Titarubi.

Nama Titarubi tidak asing dalam dunia seni rupa Indonesia. Karyanya ikut dipamerkan dalam Intimate Distance dan namanya dicatat dalam buku Indonesian Women Artists, The Curtain Opens tulisan Carla Bianpoen, Farah Wardani, dan Wulan Dirgantoro yang diluncurkan bersamaan dengan pameran Intimate Distance.

Di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) karya-karya Titarubi tampil lebih utuh dengan benang merah yang lebih jelas ketika Tita merangkainya dalam tema Herstory.

Judulnya menjelaskan bahwa pameran ini adalah tentang pergulatan personal Tita sebagai seniman, sebagai perempuan, dan ternyata juga sebagai ibu, anak, dan istri ketika karya-karya dalam pameran ini ditanyakan kepada dia.

Memasuki halaman BBJ, mata akan langsung berhadapan dengan sebuah lori tebu dalam ukuran sebenarnya yang didirikan di atas rel kereta sungguhan. Di dalamnya ada tumpukan tubuh-tubuh dari keramik. Terlihat masif dan besar.

Tita mengatakan, karya berjudul Kisah Tanpa Narasi # 2 (2007) itu merupakan pergulatannya dengan material. “Karya itu kesannya berat, macho. Maka harus dipertanyakan apa yang disebut sebagai materi perempuan,” kata Tita.

Idenya muncul ketika mendengar berita tentang orang- orang di Thailand Selatan yang ditangkap oleh militer dan dijejalkan ke dalam mobil lalu mereka mati karena tidak bisa bernapas. Tentu juga di dalam negeri, seperti peristiwa 1965, Tanjung Priok, dan tragedi 1998. Sebelum membuat karya ini, Tita sudah membuat instalasi lori pula, tetapi dalam ukuran lebih kecil.

Lori itu merupakan replika dari lori tebu di PG Madukismo, Yogyakarta, dan dikerjakan di studio Tita di Yogyakarta. Dengan kata lain, untuk seorang seniman bukan materi yang mendikte siapa seniman yang dapat menggunakannya sebagai medium, tetapi pengalaman, perenungan, dan pengetahuan si senimanlah yang akan menentukan materi apa yang akan dia gunakan.

Tubuh

Kisah yang lebih personal tampak juga dalam karya Herstory About Foot: Di Bawah Kakiku Bunga-bunga Sudah Mati: Sepasang telapak kaki dari perunggu dalam warna emas dengan tebaran bunga di sekelilingnya di dalam kotak kaca yang diberi lampu dari bawah.

Ini pengalaman Tita dengan putri pertamanya, Charcoaltera Wage Sae (11) yang mempertanyakan kesibukan ibunya sehingga tidak dapat hadir ke pertemuan orangtua murid dan guru di sekolah. “Dia mengatakan saya tidak profesional sebagai ibu,” tutur Tita.

Inilah pertanyaan yang mengganggu ibu dua putri itu bahwa banyak ibu, bahkan ketika diberi posisi yang mulia dengan surga berada di bawah telapak kaki ibu, dapat menjalani peran itu. Justru peran itu dapat menjadi beban karena ibu tidak boleh berbuat salah. “Laki-laki lebih bebas karena tidak diberi peran itu. Itu sebabnya laki-laki dapat berbuat lebih bebas, berselingkuh, misalnya, sementara bila perempuan yang melakukan akan menjadi sangat salah,” tutur perupa kelahiran Bandung, 15 Desember 1968.

Pengalaman masa kecilnya, dengan ibunya yang sangat sibuk sebagai bidan dan memiliki rumah bersalin kecil di sebelah rumah sementara ayahnya pegawai negeri dengan jam kerja teratur, berbeda dari kebanyakan rumah tangga di mana ayah lebih sibuk bekerja di luar rumah daripada ibu dan berpenghasilan lebih besar dari istri.

“Persepsi masyarakat seperti itu tidak adil dan persepsi bahwa suami adalah kepala rumah tangga dan istri ibu rumah tangga itu membebani laki-laki dan perempuan,” kata Tita.

Kedekatannya dengan janin di tempat ibunya berpraktik sebagai bidan pula yang mengilhami Tita untuk membuat Lindungi Aku Dari Keinginanmu (2002). Tita membuat dinding melengkung dan di dinding itu digantung tiga torso perempuan yang di perutnya terdapat janin dalam tiga tahap trimester kehamilan. Ketika pertama kali dipamerkan, di lantai diletakkan telur-telur, tetapi di BBJ telur- telur di lantai dihilangkan.

Tita mengatakan, karya ini ingin mengatakan agar jangan memaksa membentuk seseorang, seperti orangtua yang ingin membentuk anaknya. “Atau seperti iklan yang memaksa orang berubah untuk menjadi langsing, berkulit putih, berambut tebal dan panjang,” kata Tita.

Intinya, kata Tita, adalah tentang ketidakadilan yang dibentuk melalui konstruksi sosial masyarakat. Dia memulainya dari tubuhnya, pengalaman sehari- hari bersama suami dan anak- anaknya, dan dari situ merambah ke masalah di ruang publik.

Budaya dan alam

Pergulatan-pergulatan seperti yang dialami Tita bukan khas. Perupa perempuan lain juga mengalaminya, seperti diungkapkan dalam diskusi para perempuan perupa di Galeri Nasional sebagai bagian pameran Intimate Distance.

Pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman, tubuh, senyapnya narasi perempuan, dan apa artinya menjadi perupa perempuan menjadi pertanyaan- pertanyaan yang terlontar. Persoalan menjadi semakin kompleks ketika pertanyaan dilebarkan pada materi yang digunakan dalam berkesenian. Ada masa di mana cat minyak dianggap sebagai medium milik laki-laki dan karya perempuan lebih dianggap sebagai seni kriya.

Pergulatan-pergulatan dalam dunia kesenian adalah cermin dari pergulatan-pergulatan dalam pikiran yang lebih luas lagi ketika laki-laki dianggap mewakili budaya yang aktif dan berpikir, sementara perempuan sebagai alam yang pasif.

Perubahan terhadap persepsi tersebut baru belakangan saja terjadi ketika semakin banyak perupa perempuan membuat karya di tengah dominannya karya perupa laki-laki. Pertanyaan-pertanyaan masih akan terlontar dan ada perempuan perupa tidak perlu terjebak mengimitasi laki-laki untuk mengekspresikan keseniannya.

Rubrik Bentara

www.kompas.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s