Pram dan Politik Nobel Kapitalis


Minggu, 04 Februari 2007

F Rahardi

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah ikon sastra Indonesia, yang pengaruhnya melebar ke ranah politik. Bukan hanya politik Indonesia, melainkan juga politik kapitalisme global. Hingga akhir hayatnya, dia hanya sekadar tercatat sebagai “kandidat” penerima Nobel Sastra.

Ada dua sebab mengapa Pram tidak berhasil meraih Nobel Sastra. Pertama, karya-karya mutakhir Pram terlalu mencair. Triloginya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca; kemudian novel tebalnya, Arus Balik sampai ke Arok Dedes, menjadi seperti novel pop. Pembandingnya, karya-karya Pram terdahulu, seperti Perburuan (novel 1950), Keluarga Gerilya (novel 1950), Bukan Pasar Malam (novel 1951), dan Cerita dari Blora (kumpulan cerpen 1952). Bahkan dengan “catatan” Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, novel-novel mutakhir ini kalah intens.

Karya-karya lama Pram sebenarnya juga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hingga tetap bisa menjadi bahan pertimbangan para anggota Akademi Swedia. Karenanya, saya menduga ada faktor politik yang mengakibatkan nama Pram selama ini hanya berhenti sebagai kandidat Nobel Sastra. Pram sebagai pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) adalah bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang juga bagian dari Komunisme Global. Komunis adalah lawan dari kapitalis.

Para pewaris Alfred Nobel dan anggota Akademi Swedia jelas akan lebih condong ke paham kapitalis. Hingga di alam bawah sadar mereka, sastrawan seperti Pram akan kurang dihargai dibandingkan dengan sastrawan dari negeri kapitalis. Atau, sastrawan dari negeri komunis, namun berpredikat pembangkang. Misalnya, peraih Nobel Sastra Boris Pasternak (1958), Mikhail Sholokhov (1965), Alexander Solzhenitsyn (1970), dan Gao Xingjian (2000).

Kasus Neruda

Pablo Neruda (1904-1973) adalah penyair Cile, peraih Nobel Sastra 1971. Sebenarnya, pada tahun 1964 Neruda sudah dinominasikan Akademi Swedia. Dia gagal karena ada kampanye penolakan dari The Congress for Cultural Freedom. Lembaga yang didanai Central Intelligence Agency (CIA) ini menentang Neruda karena dianggap terlibat dalam pembunuhan Leo Trotsky. Pembangkang Uni Soviet ini terbunuh di Meksiko tahun 1940 ketika Neruda menjadi konsul jenderal di sana.

Neruda memang jelas berhaluan kiri. Tahun 1945 ia menjabat senator, mewakili Partai Komunis Cile. Tahun 1953 dia juga menerima penghargaan Stalin Peace Prize. Ketika tahun 1953 Stalin meninggal, Neruda menulis sebuah ode untuk petinggi Uni Soviet itu. Dengan latar belakang demikian, Nobel sastra jelas bukan sekadar penghargaan kultural, melainkan juga pemihakan secara politis. Neruda kemudian memang teraniaya oleh Presiden González dan diktator Augusto Pinochet.

Beda dengan Neruda, penyair perempuan Cile Gabriela Mistral (1889-1957) meraih Nobel Sastra dengan sangat mulus. Selain bukan komunis, Gabriela juga tidak aktif dalam politik praktis. Meskipun dia juga berprofesi sebagai diplomat, seperti halnya Neruda, aktivitasnya hanya di sekitar gerakan femininisme. Hingga Gabriela praktis bisa lebih dekat dengan AS dan negara-negara Eropa. Inilah faktor yang memuluskannya meraih Nobel Sastra 1945.

Seandainya Pram lahir di RRC, Vietnam, Kuba, atau Korea Utara, nasibnya akan beda. Dia akan melawan pemerintah yang komunis. Promosi negara-negara kapitalis untuk menominasikan Pram pasti akan lebih gencar. Para sastrawan kiri kita yang terusir ke Eropa pasca-G30S pernah mengadu ke PEN (International Association of Poets, Playwrights, Editors, Essayists, and Novelists) soal pembantaian dan penangkapan oleh rezim Orde Baru. Pengaduan ini kurang diperhatikan dibandingkan dengan laporan kaum pembangkang di negeri komunis.

Dendam dalam negeri

Di dalam negeri, Pram teraniaya bukan hanya oleh rezim Orde Baru. Dia juga menerima “karma” dari rekan-rekan sejawatnya, para sastrawan sendiri. Syahdan, pada paruh pertama tahun 1960-an Pram sangat berkuasa. Sebagai Ketua Lekra dan Pemimpin Redaksi Harian Bintang Timur, dengan lembar kebudayaan Lentera, Pram biasa menghajar lawan-lawan politiknya, terutama para penanda tangan Manifes Kebudayaan, yang dilecehkan dengan sebutan “Manikebu”.

Ketika itu, tak ada koran atau majalah yang berani memuat karya para “Manikebuis” ini. Hingga mereka harus menulis dengan menggunakan nama samaran. Di antara para penanda tangan Manifes, Goenawan Mohamad (GM) paling menderita terkena dampak teror Pram cs. Namun, dendam yang tertuju ke arah Pram justru datang dari para sastrawan, yang ketika itu belum berbunyi atau jauh dari hiruk-pikuk politik. Hingga mereka sebenarnya kurang terkena dampak teror dari Pram.

GM sendiri sebagai wartawan Tempo sempat ke Pulau Buru menengok Pram dengan penuh empati. Ketika Pram meninggal beberapa waktu lalu, Catatan Pinggir GM di Majalah Tempo juga sangat obyektif. Tak tampak sama sekali adanya dendam pribadi, terlebih dendam politik. Beda dengan beberapa sastrawan yang sampai saat ini pun ingatannya masih tertuju ke masa pra-G30S, ketika Pram masih sangat berkuasa. Dendam politik ini tampaknya akan sulit dihapus begitu saja oleh berlalunya waktu.

Sikap para sastrawan yang pernah berseteru dengan Pram sebenarnya tipikal mewakili sikap Pemerintah Indonesia. Meskipun Orde Baru telah tumbang, pemerintahan BJ Habibie, Gus Dur, Mega, dan SBY tidak pernah mencabut larangan beredar buku-buku Pram. Padahal, “dosa” politik Pram sudah ditebusnya dengan menderita di tahanan Pulau Buru tanpa pernah diadili. Pencabutan larangan ini penting sebab karya-karya Pram, Sitor Situmorang, Agam Wispi, dan lain-lain selama ini tidak pernah tercantum dalam antologi resmi dan buku-buku sekolah.

Rehabilitasi

Sekarang ini mulai ada niat untuk merehabilitasi nama mantan Presiden Soeharto dan Bung Karno. PDI-P menolak kalau rehabilitasi HM Soeharto dikaitkan dengan rehabilitasi nama Bung Karno. Rehabilitasi dua nama ini tampak hanya untuk kepentingan politik jangka pendek. Pemerintahan sekarang perlu memperkuat posisi untuk menghadapi Pemilu 2009 nanti. Tapi tidak pernah terpikir oleh pemerintah untuk merehabilitasi sastrawan besar yang namanya pernah terkait dengan Lekra.

Pemerintah, baik Habibie, Gus Dur, Mega, maupun SBY, sebenarnya mau-mau saja merehabilitasi nama Pram cs sebab di mata internasional tindakan ini akan sangat menguntungkan. Tetapi, yang akan ribut justru para sastrawan kita sendiri. Mereka yang merasa pernah “teraniaya” oleh Pram pasti sewot besar. Mereka akan mengemukakan dalih “bahaya laten komunisme, ateisme, radikalisme kaum kiri” dan lain-lain. Mantan lawan politik yang akan sangat mendukung upaya rehabilitasi ini paling banter hanya GM seorang.

Selama ini, anak-anak sekolah kita diisolasi dari karya sastrawan Lekra. Tetapi para remaja serta mahasiswa kita justru membaca Karl Marx, Tan Malaka, dan menjadikan Che Guevara sebagai pahlawan bersama. Dendam politik terhadap Pram, Lekra dan PKI, tampaknya justru telah menciptakan kelompok pendukung yang lumayan kuat. Anak-anak muda, aktivis buruh, serta anggota Partai Rakyat Demokratik adalah fans Pram yang fanatik. Sementara karya-karya ikon sastra kita ini tetap “dinajiskan”.

F Rahardi, Penyair, Wartawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s