Multatuli Sebuah Kenangan


Oleh (alm) Pramoedya Ananta-Toer

Multatuli? Ya, kapan nama itu pernah kudengar? Jauh di masa lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat aku terus teringat. Soalnya bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

Di rumah kami terdapat perpustakaan yang cukup besar, untuk ukuran kota kecil, dalam keadaan tak terawat, bahkan selalu berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte untuk mengajar bahasa Belanda tingkat sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah dari rumah para pejabat Belanda yang dilelang barang-barangnya menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang Multatuli, biar pun dalam perpustakaan terdapat beberapa jilid karyanya. Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu – ia tidak membaca Jawa – juga tidak pernah.

Awal tahun 1930-an rumah kami menjadi pusat kegiatan para nasionalis kiri non-koperator. Para pemuda yang berbakat melukis muali membikin lukisan dengan cat, dijajarkan sepanjang dinding rumah. Setiap di antara kanak-kanak dapat membaca nama-nama di bawahnya: Rasuna Said, Diponegoro, Alibasah Sentot Prawirodirjo, Soekarno, Sartono, Gatot Mangkupraja, Iwa Kusumasumantri, Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo.

Tapi Multatuli? Tidak melalui lukisan, juga tidak melalui dongengan di rumah. Di tempat lain aku diperkenalkan kepadanya.

Masih awal tahun 1930-an itu, KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) tempat kami mengangkat aku jadi wakil ketua regu nomor kesekian. Bukan karena ada prestasiku dalam kepanduan. Hanya karena ayahku seorang tetua KBI yang dengan beberapa orang lainnya, dalam suatu malam api unggun telah melakukan sumpah sambil memegangi ujung sang merah-putih. Atau hanya karena ayahku seorang non-koperator sejak 1923.

Sebagai wakil kepala regu setiap Rabu sore kami harus berkumpul di suatu ruangan sekolah Budi Utomo untuk mendapat bimbingan. Didongengkan tentang riwayat gambar-gambar di rumah. Ditambah dua nama lagi: S.K. Trimurti, yang juga sering diceritakan oleh ibuku. Dan: Multatuli. Begitu tahu orang yang bernama Multatuli itu orang Belanda dan pejabat tinggi pangreh praja pula aku terperangah dan mengambil sikap. Tidak lagi sebagai anak didik yang patah, sudah jadi opposan. Ya, sebelum lagi aku dilahirkan udara rumah kami telah dibuntingi oleh kebencian terhadap penjajahan. Segala yang buruk, keji, biadab, berasal dari penjajahan. Belandalah wakil penjajahan itu. Secara langsung atau tidak orangtuaku mengajar kami membencinya. Kami muak pada serdadu kolonial, kami jijik terhadap polisinya, dan kami memandang rendah pegawai-negerinya.

Mana mungkin ada orang Belanda yang baik? Beberapa kali kulihat sendiri seorang polisi Belanda menendangi para penjual dan bakulnya yang menjual barang-barangnya di luar pasar. Hanya karena menghindari pajak pasar. Berapa harga dagangannya? Paling banyak senilai duapuluh lima sen. Dendam itu kami lepaskan berdua waktu memapasi seorang agen polisi yang masih muda berkendara sepeda seorang diri di jalanan senyap siang hari. Berdua kami melemparinya dengan batu dan menyumpahi: anjing! khianat! kemudian hambur melarikan diri menuruni jalan kecil tebing sungai yang tak mungkin bisa tersusul dengan sepedanya.

Pada hari-hari tertentu serombongan polisi lapangan (veld-politie) dengan bedilnya melalui depan rumah kami untuk pergi ke luar kota latihan menembak. Sudah kutaksir pohon kapok tetangga untuk memasang ujung tali. Bila rombongan polisi lapangan lewat, ujung tali dari seberang jalan akan kutarik. Mereka akan melanggarnya dan akan jatuh susun-tindih bergelimpangan. Sayang mereka hanya berangkat pagi bila latihan, tak pernah malam. Rencana itu tak pernah terlaksana.

Pernah kusaksikan sendiri seorang mantri polisi datang ke sekolah dan merampas buku-buku karangan ayahku. Pernah kulihat sendiri bagaimana pegawai-pegawai pajak mengangkuti perabot rumah yang terbagus dari rumah kami, sehingga yang tinggal hanya barang-barang buruk dan perasaan tersinggung telah dipermalukan di depan umum.

Semua sumbernya tak lain dari kekuasaan Belanda. Mulatuli? Orang Belanda? Dia takkan lebih dari yang lain-lain. Dan tidak lain dari ayahku sendiri yang di sekolah menceritakan bagaimana Diponegoro ditipu oleh Jendral de Kock, diundang berunding, tapi kenyataannya ditangkap dan dibuang.

Hari-hari riuh itu padam. Tak ada lukisan-lukisan, tak ada nyanyian mengagungkan Indonesia Raya, tak ada suara bersama menyambut terbitnya bangsa baru di timur. Apalagi Multatuli. Tak ada yang menyebut-nyebutnya lagi.

Dalam perayaan tahunan sekolahan sekarang muncul hanya satu lukisan: Pak Tom. Dr. Soetomo. Ya, sekolahan kami memang didirikan olehnya pada 1918, ia meninggalkan bangunan dua kelas sebelum dikembangkan oleh ayaku menjadi 7 kelas. Dalam tahun-tahun tenang itu, aku sudah duduk di kelas 6, beberapa guru tertentu memberikan pengetahuan umum ekstra kurikuler di sorehari. Di antaranya tentang Multatuli. Tentu saja tentang peristiwa Lebak. Tentu saja tentang Saija dan Adinda. Sementara itu sejumlah orang muda di kota kami mempelajari bahasa Jepang melalui diktat stensilan yang dikeluarkan oleh Instituut Ksatrian, Bandung, yang dipimpin oleh E.F.E. Douwes Dekker. Rupa-rupanya masa ini dipertautkan nama Multatuli, E. Douwes Dekker, dengan E.F.E. Douwes Dekker oleh diktat tersebut. Dan pengembaraan nama Multatuli menjadi semakin luas.

Juli 1941. Suatu kegemparan keluarga. Asisten Residen – aku tak ingat namanya – memanggil ayahku. Dapat dibayangkan: bencana baru akan menimpa keluarga kami. Tak ada sesuatu yang baik dapat diharapkan dari Belanda dan penjajahannya. Yang terjadi lebih menggemparkan: ayah diminta kembali mengajar di HIS setelah 18 tahun menjadi non-koperator. Sampai jauh di kemudian hari, sebelum tahu tentang adanya liga atau front anti-fasis internasional dan pendekatan kerjasama anti-fasis antara bangsa-bangsa penjajah dan yang terjajah, aku malu melihat perbuatan ayahku, dan tidak mampu mengampuninya. Sekali pun dalam hati mulai percaya ada Belanda yang baik, berbudi, dalam diri Multatuli.

Dengan cepatnya keadaan berubah. Jepang datang. Aku pindah ke Jakarta. Seorang teman sekolah, yang tinggal di kios buku bekas bernama “Indonesia Sekarang” membuat aku sering datang ke kios itu. Penuh buku Barat dari rumah-rumah orang Belanda yang masuk ke tawanan. Di situ aku mulai berkenalan langsung dengan Multatuli. Bukan Multatuli yang didongengkan, tetapi tulisannya dengan bahasanya yang alot. Ya, sekedar berkenalan saja.

Guru bahasa Indonesia, Mara Sutan, memperkenalkan kami pada sejumlah pengetahuan baru ekstra kurikuler, dari Sokrates, Imam Sjafei Kayutanam, sampai Multatuli. Dialah yang membikin aku setiap hari Minggu nongkrong di perpustakaan Musium Gajah membacai koran dan majalah lama. Dari bacaan itu dapat kusimpulkan: semua nasionalis barisan terdepan pernah mempelajari, bukan sekadar membaca, Multatuli. Dia tonggak awal dalam sejarah Indonesia yang menampilkan seseorang yang membela rakyat kecil dari kejahatan cultuurstelsel klasik van den Bosch. Yang memberikan keberanian, kelugasan, kecerahan, dan hidup mudanya pada perlawanan terhadap kerakusan para pembesarnya sendiri, para pembesar sebangsa sendiri. Yang memberitahukan, bahwa sampai Raja Belanda pun, dapat dihimbau, bahwa kepala desa, kepala distrik sampai Gubernur Jendral bukan pagar-pagar kekuasaan yang tak tertembusi oleh daya tulisan dan daya cetak. Dia yang mengajarkan bagaimana tumbuh, berkembang, lurus ke atas, dengan integritas tetap utuh, tidak mondar-mandir dan berpusing dalam lingkaran setan.

Tahun 1950-an mulai kukumpulkan tulisan-tulisan semasa tentang dia. Paling banyak menyebutnya adalah Buyung Saleh. Dalam kurun 1950-an itu juga Han Resink pernah mengejuti aku dengan satu penilaian. Itu terjadi di rumahnya pada suatu sore:

“Sastra Jawa dan sastra Indonesia belum pernah melahirkan cerita percintaan dari kalangan rakyat jelata. Orang pertama di negeri ini yang pernah menuliskannya, dan bukan tidak berhasil, tak lain dari Multatuli dengan Saija dan Adinda.”

Masih tentang cerita percintaan ia mengakui, sastra Jawa pernah melahirkan karya agung. Seorang gadis rakyat bawah memprotes dengan hidupnya pada feodal yang justru sedang pada puncak kejayaannya. Gadis itu adalah Roro Mendut. Tetapi cerita percintaan antara gadis dan perjaka dari kalangan tani? Ia menggeleng.

Ya, Saija dan Adinda dan pidato Lebak lebih meluas daripada karya-karya Multatuli selebihnya dalam kurun ini.

Seorang pelukis Lekra, yang telah membacai Multatuli sejak masa kolonial, S., sampai tahun itu masih terpaut hanya pada Saija dan Adinda. Pembicaraannya sekali ini ia batasi pada pemberontakan Lampung.

“Kalau Saija atau Adinda, atau siapa saja di antara kita waktu itu, melemparkan tombaknya atau mengayunkan parangnya, yang pertama atau yang ke sekian, itu merupakan peristiwa budaya. Karena pembatasan budaya yang menyebabkannya berbuat yang tidak berbudaya. Pembatasan sosial, ekonomi dan politik, untuk jangka waktu tertentu masih bisa ditenggang. Itu sebabnya Saija dan Adinda berada di Lampung, sudah meninggalkan Banten, suatu masa tenggang. Kalau Kompeni melepaskan tembakan untuk pertama atau kesekian kali, itu untuk intensivikasi atau ekspansi kekuasaan sosial, politik dan ekonominya, untuk dominasi budayanya. Pemberontakan Lampung bukan sekadar peristiwa militer. Sepanjang sejarah kemiliteran menempati kedudukan yang kesekian dalam kehidupan manusia. Budaya, pernyataan manusia sebagai makhluk.”

Ia tak pernah sempat mengembangkan pikirannya, karena lukisan-lukisannya belum mampu menghidupinya. Masyarakat lebih sibuk mencari sesuap nasi daripada memajang dindingnya dengan lukisan.

Dalam periode ini jilid demi jilid kumpulan karya Multatuli terbit. Makin berhamburan dengan Latin, huruf Yunani, dan persoalan-persoalan yang makin alot.

Saija dan Adinda telah dibikin cerita panggung oleh ebberapa ornag dan dipentaskan di panggung umum, di sekolahan, di lingkaran-lingkaran pemuda. Untuk Indonesia Multatuli adalah Saija dan Adinda.

Mengingat bahwa Multatuli dengan pengaruhnya yang konstruktif telah berjasa dalam memberikan suluh pada para nasionalis barisan depan maka dalam 1959, dalam sidang para Ketua Komite Perdamaian Pusat, kuajukan usul untuk mengadakan peringatan ulang tahun 140 tahun Mutaltuli secara nasional dan mendirikan patungnya di tempat-tempat ia pernah membikin sejarah. Ya, tentu saja usul diterima dengan aklamasi. Dan diharapkan dariku memberikan pada dewan materi tentangnya. Tulisan-tulisan tentangnya dalam koleksiku kuserahkan untuk diperbanyak. Delegasi pun terbentuk. Mereka menghadap Presiden Soekarno. Hasilnya?

Seorang anggota delegasi datang ke rumah untuk melapor. Ia duduk sambil menghembuskan nafas. Ya? Sapaku. Dan ia meringis.

Ternyata Bung Karno tidak menjawab.

“Apa katanya?

“Bung Karno justru yang bertanya: mengapa Multatuli? Mengapa tidak Baars? Tidak Sneevliet?”

Dengan demikian patung Mutlatuli belum pernah berdiri. Yang didirikan justru patung Kartini, bikinan pematung Jepang, dengan penampilan sebagai peragawati. Walau waktu hidupnya angkatan Kartini belum mengenal kantong dada, KD atau katakanlah BH, Kartini peragawati nampak-nampaknya sudah mengenakan. Tapi bukan itu keberatanku. Walikota memanggil. Irupanya ia membutuhkan kupingku untuk dapat ditiup dengan kata-katanya:

“Nah, bagaimana? Itu kan hadiah dari orang asing. Apa harus ditolak?”

Dia tidak bicara tentang Multatuli, sekali pun dia tahu, juga Multatuli punya saham menentukan dalam proses penjadian Kartini.

Pada 1964 LEKRA mendirikan Akademi Sastra Multatuli. Tentu saja aku ikut mendapat kehormatan menjadi salah seorang pendiri. Hampir tepat setahun kemudian Akademi itu runtuh untuk selamanya bersamaan dengan runtuhnya Presiden Soekarno. Namun tidak mengurangi kenyataan, di bidang sastra Multatuli oleh jajaran organisasi kebudayaan rakyat ini dianggap sebagai guru besar. Dan memang LEKRA sebelum dijatuhkannya Soekarno yang banyak memperkenalkan Multatuli di Indonesia. Ia dinilai sebagai humanis besar, bukan saja mengenal kolonialisme dan wataknya, juga mengenal rakyat jajahan, dan lebih-lebih menghayati keterbatasannya dalam penghidupan, dalam berbudaya, dalam berlawan, bahkan dalam bercinta.

Sewaktu di Buru, seorang teman yang baru pulang dari kerjapaksa di pelabuahan membawa sesobek kertas, diberikannya padaku sebagai oleh-oleh. Sensor telah tidak meloloskan produksi bersama Indonesia-Belanda film Mutatuli. Alasan: karena orang Indonesia (semasa Multatuli belum ada orang Indonesia!) ditampilkan lebih jahat daripada orang Belanda. Siapa tidak dibikin terkekeh, lagi-lagi bertemu dengan kemulukan domestik sisa warisan bangsa terasing? Diberitakan juga tentang kekecewaan pihak Belanda. Tentu saja. Setidak-tidaknya itu kekecewaan sejumlah pribadi,paling-paling kekecewaan grup atau golongan. Sumbernya masih tetap: orang belum bisa melihat Indonesia sebagai pewaris kolonialisme Belanda, paling tidak di bidang teritorial dan infrastrukturnya, bahkan dalam sejumlah struktur. Apa salahnya kalau juga jadi pewaris syah di bidang mentalitas kolonial? Kan mentalitas itu juga yang menolak dan membuang Multatuli? Apa salahnya kalau filmnya pun ditolak? Kan Indonesia tidak mungkin ada tanpa kolonialisme Belanda?

Sekembali dari Buru nampaknya masalah penolakan sensor itu tetap hidup. Beberapa kali orang mengajak bicara tentangnya. Seorang malah menyatakan ikut terlibat dalam pembikinan film tersebut. Tapi tak seorang pun pernah mengatakan, bahwa kemulukan domestik juga memerlukan penghormatan.

Sementara itu publikasi tentang dan dari Multatuli semakin banyak di Indonesia. ia juga diperkenalkan secara kurikuler di sekolah-sekolah dasar. Multatuli dalam film tetap menyinggung kemulukan domestik, karena dalam banjir produski teknologi mutakhir – lebih menggelora dari banjir akibat penggundulan hutan, ia tetap produk domestik yang asli.

Jenuh kemulukan membuat orang rindu pada kesederhanaan, kelugasan. Dalam hubungan dengan Multatuli, membikin aku terkenang pada suatu kali di Warsawa. Seorang Polandia, pengarang, bercerita padaku, dia mengenal Indonesia melalui seorang bocah kampung yang bersahabat dengan kerbaunya. Di atas punggung sahabatnya itu seekor macan menyerang dan kerbau sahabat itu melindunginya. Itulah Indonesia yang dikenalnya. Dan heran, ia tidak kenal Multatuli, sekali pun membicarakannya. Adegan ini sudah kudengar, keketahui sejak kecil. Seperti orang Polandia itu, juga tanpa mengenal namanya. Entah berapa ribu bocah dalam setiap angkatan kembali mendengar dan menceritakan adegan itu, atau mewujudkan dalam buku gambarnya. Mereka mendengar, bercerita dan menggambar Multatuli, tanpa pernah mengenal namanya…

Jakarta, April 1986

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s