Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya’ Category

Malam ini, di Buncit 10

Sekumpulan anak-anak muda tanggung bermain gitar di pinggir jalan yang sepi. Bau anggur dan suara gitar yang bising, disertai nyanyian yang sebenarnya hanyalah teriakan-teriakan anak tidak jelas memecah malam yang memang tidak pernah senyap.

Read Full Post »

Simpati untuk H. Usep Romli
Cerita Haji Usep Romli tentang “Pak Kades”, “Mang Ahmad”, dan “Ayah” dalam esai “Partai dan Bahan Bacaan” (rubrik Khazanah, 14/4/2007) menggelitik saya untuk turut berkomentar. Membaca tulisan itu membuat saya merasa sebagai generasi yang “kurang beruntung”. Buku banyak diterbitkan, tapi mahal.

Read Full Post »

Satu Bahasa, Masihkah?

Renungan Sumpah Pemuda 1928
“Sumpah Pemuda 1928” adalah salah satu pintu untuk memasuki lika-liku sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di dalam sumpah yang diucapkan pada tanggal 28 Oktober 1928 ini, tersimpulkan suatu ikrar yang kelak menjadi koridor gerakan kebangsaan menuju kemerdekaan Indonesia.

Read Full Post »

Dalam sejarah hidupnya, Pram cukup ‘akrab’ dengan sejarah maupun penjara. Keakraban ini dituangkannya di hampir seluruh karyanya. Bagi Pram, meski tetap pada garis bahwa “the hitherto of all mankind is a history of class struggle”, namun analogi yang diberikan Pram terhadap sejarah cukup sejuk dan teduh. Pram menyebut sejarah sebagai rumah bagi siapapun yang hendak [...]

Read Full Post »

Almarhum Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang penulis besar Indonesia yang dikenal karena konsistensinya pada kemanusiaan dan kemandirian. Karenanya, Pram tidak hanya dikagumi karena karya-karya sastra dan sejarah yang handal, melainkan karena keutuhan komitmennya untuk menyatukan jiwanya dengan karya-karya yang ditulisnya.

Read Full Post »

Mengubah Nasib Bahasa Ibu

Bulan Oktober adalah ‘bulan bahasa’. Tepatnya 28 Oktober 1928, tercetus suatu ikrar yang disebut dengan Sumpah Pemuda. Salah satu yang termuat dalam ikrar tersebut adalah dinyatakannya ‘Bahasa Indonesia’ sebagai bahasa persatuan. Meski banyak merujuk pada bahasa Melayu, namun bahasa Indonesia bukanlah bahasa Melayu.

Read Full Post »

by Sumit Mandal
New Straits Times, August 21, 1996
On Aug 17, Indonesia celebrated 51 years of independence. Though 51 is not an auspicious number, Indonesians continue to consider the meaning of independence in their daily lives.

Read Full Post »

Older Posts »