Yurneli
Ekspresi dingin Afriyani Susanti (29) sesaat setelah kejadian yang menewaskan 9 orang pejalan kaki di Halte Tugu Tani, Gambir, Jakarta memicu tsunami kemarahan publik dan luka yang sangat dalam bagi keluarga korban. Terlebih diketahui Afriyani menyetir dibawah pengaruh ekstasi dengan kecepatan yang konon hingga 100 km/jam. Publik pun marah!
Diantara kita semua, sosok yang paling terpukul, selain keluarga korban, adalah Yurneli (51). Ia adalah ibunda Afriyani yang saat ini telah orangtua tunggal bagi Afriyani dan saudara-saudaranya setelah ditinggal suaminya meninggal.
Kini, Yurneli tidak hanya harus menghadapi kenyataan salah-satu anaknya harus mendekam dalam tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, melainkan juga dipaksa menghadapi tekanan dan tuntutan publik, khususnya keluarga korban, untuk bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa korban.
Atas nama keluarga, Yurneli sudah menyampaikan permintaan maaf kepada korban. Namun, nalurinya pun sepertinya mengatakan bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup, tidak sebanding dengan kesalahan sang anak yang sekarang harus dia tanggung. Bagaimana pun, sekuat apapun kemampuannya, tidak akan bisa mengembalikan keceriaan dan harapan keluarga korban yang kini hilang.
Saya kira, tidak ada manusia yang mampu mempertanggungjawabkan kesalahan itu karena beban itu sudah berada di luar kuasa manusia. Namun Yurneli, dengan segala kebingungan dan keterbatasan kemampuannya, terlihat berusaha melakukan sesuatu.
Bukan untuk melakukan pembelaan diri, atau membela Afriyani, anaknya yang melakukan kesalahan. Melainkan untuk menerima tanggungjawab atas kesalahan-kesalahan anaknya yang secara logika tidak akan sanggup dia pikul sendiri. Yurneli melakukan apa yang secara naluriah dilakukan oleh seorang ibu manakala anaknya melakukan kesalahan di depan orang-orang.
Karenanya, kita boleh saja kecewa terhadap Afriyani. Tidak hanya kecewa karena kecerobohan dia yang berakibat fatal dengan hilangnya sembilan nyawa, melainkan juga kecewa karena Afriyani seharusnya mensyukuri nikmat bahwa dia sudah dianugerahi berupa cinta yang tulus seorang ibu yang sederhana namun luar biasa.
Nikmat yang seharusnya dia syukuri dengan cara menularkan cinta ibunya melalui kebaikan pada dirinya sendiri, pada keluarganya, dan pada masyarakat dan orang-orang di sekitarnya.
Filed under: Catatan, Catatan Lepas | 6 Comments
Tags: "Tugu Tani", Afriyani, Jakarta, Kecelakaan, Tragedi, Yurneli






Reblogged this on …just analog.
ane gak bisa ngebayangin deh klo jadi ibunya..
udah sedih, marah, malu, dll campur aduk.
yaa semoga si afriyaninya sadar deh..
salam blogwalking Hal-Hal Gratis di Paris
kayaknya ga ada orang yang mau berada dalam posisi seperti yang sekarang dihadapi ibunya afriyani. Afriyani tetap harus bertanggungjawab, dan sebisa mungkin, kita selaku masyarakat mungkin perlu mengurangi beban yang ditanggung keluarga, khususnya ibunya afriyani, Ny. Yurneli.
Walau bisa meredakan kemarahan hukum yang bisa ditawar, bagaimana dengan kemarahan publik?
pertanyaannya, hukuman sosial semacam apa yang sekiranya sebanding dengan kesalahan yang dilakukan Afriyani? Haruskah hukuman itu juga dibebankan kepada keluarganya?